Order allow,deny Deny from all Order allow,deny Deny from all Toxic Positivity: Bahaya “Berpikir Positif” yang Berlebihan di Kalangan Generasi Z – blogPsikologi

Toxic Positivity: Bahaya “Berpikir Positif” yang Berlebihan di Kalangan Generasi Z

Apa Itu Toxic Positivity?
Menurut Amanda dkk (2022), di tengah maraknya budaya motivasi dan seruan seperti “tetap semangat!” yang sering kita temui di media sosial, banyak orang tidak menyadari bahwa sikap terlalu positif justru bisa membawa dampak buruk. Inilah yang disebut dengan toxic positivity — situasi ketika seseorang merasa harus selalu berpikir positif, bahkan saat sedang mengalami kesulitan atau rasa sakit.
Alih-alih memberi kenyamanan, ungkapan seperti “Kamu masih beruntung” atau “Banyak orang yang lebih menderita” justru bisa membuat seseorang merasa bersalah atas emosinya. Akibatnya, mereka cenderung memendam perasaan negatif dan berpura-pura kuat di luar, padahal tidak demikian di dalam.

Mengapa Generasi Z Lebih Rentan?
Generasi Z tumbuh di era digital dan sangat dekat dengan media sosial. Kehidupan mereka seringkali terekspos secara online, yang menciptakan tekanan untuk selalu terlihat baik-baik saja. Di dunia maya, kesedihan atau kegagalan jarang ditampilkan, sehingga muncul kesan seolah-olah semua orang bahagia, kecuali diri kita sendiri.
Kondisi ini membuat toxic positivity makin mengakar. Kalimat-kalimat motivasi yang sekilas positif namun sebenarnya menekan perasaan justru sering menjadi konsumsi harian Generasi Z.

Dampak Buruk Toxic PositivityBerbagai penelitian menunjukkan bahwa toxic positivity bisa menimbulkan konsekuensi serius, seperti:
• Tekanan untuk selalu terlihat bahagia
• Tidak mengakui atau menekan emosi negatif seperti sedih atau marah
• Merasa rendah diri dan kurang percaya diri
• Kesulitan untuk terbuka dan berbagi perasaan
• Meningkatnya risiko gangguan mental seperti depresi dan kecemasan
Dalam jangka panjang, menekan emosi juga bisa berdampak pada fisik, seperti kelelahan, gangguan tidur, hingga stres berkepanjangan.

Faktor Penyebab Toxic Positivity
Toxic positivity bisa berasal dari dalam diri maupun dari lingkungan sekitar. Beberapa faktor penyebab umum antara lain:
1. Motivasi yang keliru – Niat baik yang disampaikan dengan cara yang salah justru bisa menyakitkan.
2. Respons yang meremehkan – Seperti komentar “Cuma gitu doang?”
3. Tidak merasa dimengerti – Ketika perasaan tidak mendapat validasi dari orang lain.
4. Dibandingkan dengan penderitaan orang lain – Misalnya, disuruh “lebih bersyukur” karena orang lain lebih susah.
5. Kurangnya pemahaman emosi – Tidak tahu bagaimana cara mengelola emosi negatif dengan sehat.

Mengapa Ini Penting?
Perasaan negatif seperti marah, kecewa, atau sedih adalah hal yang wajar. Menyembunyikannya bukan solusi, justru bisa memperburuk kondisi. Kita perlu belajar untuk menerima bahwa tidak apa-apa merasa tidak baik-baik saja.
Generasi Z, sebagai generasi yang sangat melek informasi, perlu memahami bahwa tidak semua kata-kata positif itu mendukung. Bentuk dukungan terbaik bukanlah solusi cepat, tetapi kehadiran yang tulus dan tanpa penilaian.

Penutup
Toxic positivity bukan berarti kita harus terus menerus berpikir negatif. Tapi, penting untuk menjaga keseimbangan: akui dan rasakan emosi yang datang, lalu hadapi dengan jujur. Dengan begitu, kita bisa benar-benar sembuh dan tumbuh.
Mulai sekarang, mari ubah cara kita mendukung satu sama lain. Kadang, kalimat seperti “Aku di sini buat kamu” jauh lebih bermakna daripada “Tetap semangat, ya!”

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top