Kamu pasti pernah dengar kalimat seperti ini:
“Yuk semangat terus, jangan sedih!”
Kedengarannya positif, ya? Tapi ternyata, nggak selalu begitu. Ada saat di mana sikap terlalu positif justru bisa jadi racun—ini yang disebut dengan toxic positivity.
Apa Sih Toxic Positivity Itu? Toxic kok positiv, atau positiv kok toxic?
Toxic positivity adalah tekanan buat selalu terlihat bahagia dan positif, walaupun lagi nggak baik-baik aja. Emosi negatif seperti sedih, kecewa, atau marah jadi dianggap tabu atau bahkan salah. Padahal, perasaan-perasaan itu wajar banget dan manusiawi.
Buat remaja, fenomena ini sering muncul di lingkungan sekitar, mulai dari teman, keluarga, bahkan media sosial. Semua serba “perfect”, semua serba “positive vibes only”. Ujung-ujungnya, banyak yang ngerasa tertekan harus selalu terlihat bahagia.
Kenapa Berbahaya?
Waktu kita terus-terusan dipaksa buat berpikir positif, kita jadi nggak jujur sama perasaan sendiri, yang seharusnya kita bisa beri ruang untuk emosi negatif tersebut, jadi Kita belajar buat menekan emosi, bukan menghadapinya. Akibatnya?
- Merasa bersalah karena sedih
- Nggak bisa cerita ke siapa-siapa
- Merasa sendirian
- Stres yang numpuk diam-diam
Dan yang paling penting, healing atau penyembuhan emosional jadi tertunda, sepele tapi kita sering ga sadar kan?
Contoh Toxic Positivity yang Sering Kita Dengar
- “Jangan dipikirin, nanti juga lewat.”
- “Kamu harus tetap senyum, biar masalahnya cepet selesai.”
- “Kalau kamu terus-terusan sedih, nanti orang-orang males sama kamu.”
Kalimat-kalimat ini sering dilontarkan dengan niat baik, tapi efeknya justru bisa bikin yang denger jadi merasa nggak valid perasaannya.
Terus, Harus Gimana?
Tenang, bukan berarti kita harus jadi pesimis terus, ya. Tapi kita bisa mulai lebih sehat dalam menanggapi perasaan sendiri dan orang lain. Caranya?
- Terima dan validasi perasaan. Nggak apa-apa kok kalau kamu lagi sedih. Nggak harus selalu kuat.
- Dengerin tanpa menghakimi. Kadang, seseorang cuma butuh didengerin, bukan dinasehati.
- Stop banding-bandingin penderitaan/Adu nasib. Semua orang punya kapasitas masing-masing dalam menghadapi masalah.
- Ubah kalimat penyemangat yang lebih empatik, seperti “Aku ngerti ini pasti berat buat kamu, aku ada di sini kalau kamu butuh.”
Toxic positivity bisa jadi jebakan yang nggak kelihatan. Kita dikira harus selalu tersenyum, padahal dalam hati berantakan. Yuk, mulai dari sekarang, kasih ruang buat diri sendiri dan orang lain buat ngerasain semua emosi—baik yang enak maupun yang nggak. Karena jadi manusia berhak untuk tenang dan bahagia.